Yang Ditebar Tak Pernah Pudar

Ksatria Templar, begitulah mereka menamakan diri. Sebuah pasukan elit, terlatih dan siap tempur.

Pasukan khusus tentara salib yang gagah perkasa dan siap meluluhlantakkan musuhnya. Dibentuk sebagai icon perang antara Kristen Eropa dengan Islam dalam Perang Salib. Perang yang dianggap suci oleh sebagian kalangan.

Perang ini menyimpan duka bagi Eropa. Sebuah keniscayaan yang sulit dipercaya, ketika Ksatria Templar harus berhadapan dengan kaum Muslimin yang dipimpin oleh Sulthan Saladin, atau Shalahuddin al-Ayyubi kita mengenalnya. Mereka kalang kabut di medan laga. Jadi pecundang di medan perang.

Yang menarik dari Kingdom of Heaven adalah, Shalahuddin demikian santun kepada siapa pun, termasuk kepada musuh yang memeranginya.

Sifat inilah yang menjadikannya sebagai pemimpin yang disegani kawan dihormati lawan. Tawanan perang dari kalangan tentara Salib diperlakukan dengan baik, dilayani dan dihormati sebagaimana mestinya. Bahkan sebagiannya dibebaskan tanpa syarat yang membebankan.

Yang unik, menarik, sekaligus indah, ialah ketika tentara salib kalah di medan tempur. Saat itu pemimpinnya Raja Inggris, Ricard Si Hati Singa menderita sakit. Yang simpati dan mengobatinya, bukan dari lingkungan istana atau kerajaan Inggris, atau para dokter dari Eropa, atau kerabat dan sahabat dekatnya. Tapi yang mengobatinya, justru orang yang selama ini dibencinya, dimusuhinya. Yakni Shalahuddin Al-Ayyubi.

Karena kebesaran jiwanya, santun dan rendah hati, tak heran bila Shalahuddin disayangi kawan dan dihormati lawan. Ketika pulang ke Inggris, Ricard menyebut-nyebut nama Salahuddin, menyanjung dan memuji-muji kebaikannya. Bahkan saat Shalahuddin wafat, biaya pengurusan jenazahnya ditanggung oleh Ricard sebagai bentuk kekagumannya.

Menakjubkan!

Menjadikan musuh simpatik padanya. Ada perhatian. Ada dorongan jiwa untuk balas jasa. Ingin balas budi. Internalisasi nilai-nilai kebaikan mencuat dalam realita nyata, kekaguman dan simpati timbul dalam diri. Richard berusaha membalas kebaikan Salahuddin.

Inilah kebaikan. Setiap jiwa merindukan cahayanya. Kapan pun dan di mana pun berada. Setiap orang menyukainya. Cahayanya tak pernah pudar. Orang baik menyukainya. Orang jahat pun menyukainya. Sungguh. Nilai kebaikan tak ‘kan pudar dimakan jaman, tak sirna ditelan masa, dan menjadi mata uang yang selalu berlaku.

Salam, Jauhar Al-Zanki

Twitter: @jauharalzanki
FB : Jauhar Al-Zanki

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s