Bukan Omong Doang

Ngobrol memang asyik. Berbincang ngalor-ngidul memang menyenangkan. Bercanda ria disertai gelak tawa memang bahagia. Apalagi yang diobrolinnya sesuatu yang kita suka, tentunya lebih bersemangat lagi.

Ngomongin lawan jenis misalnya, uuh senengnya bukan main. Dari mulai ngomongin anak tetangga, teman sekolah, hingga kecengan baru.

Yang laki-laki misanya ngomongin Desi, Susi, Zahra, Fani, Visi, Pipiet, Heni, Nisa, Evi, Ayu, Dila, Syifa, Neni, Siti, Thika, dan banyak lagi yang lainnya.

Yang wanita ngomongin Fahmi, Alif, Handi, Yusuf, Agus, Fatih, Rudy, Teguh, Deni, Nano, Farhan, Dhimas, Fikri, dan sebagainya. Sepertinya asyiiik buangets.

Belum lagi ngomongin bola, tempat wisata, makanan kesukaan, pakain model terkini, film baru, artis idola dan sebagainya. Semua dibicarakan. Seperti tak ada bosannya. Terus dibahas, sebelum tidur, bangun tidur, saat makan, di rumah, di tempat bermain, di taman, di mall, di mana pun berada, di setiap kesempatan selalu diomongin.

Lebih parahnya kebiasaan model begini dibawa-bawa saat belajar. Entah itu saat sekolah, kuliah, seminar, atau pengajian. Tak kenal tempat dan waktu.

Moment yang seharusnya digunakan untuk belajar, untuk manambah wawasan, memantapkan pemahaman, tapi yang ada malah digunakan untuk ngomongin yang sia-sia.

Ini bahaya karena bisa mengganggu aktivitas, kreativitas, dan produktivitas. Sehingga dengan demikian, kebiasaan ngerumpi, membicarakan hal yang tidak bermanfaat harus dieliminir dari kebiasaan kita sehari-hari. Apa yang kita bicarakan itulah gambaran diri kita, karena menurut ahli psikolinguistik kata adalah cerminan jiwa.

Hal ini sesuai dengan kaidah yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, bahwa “Sebutan timbul karena cinta, maka cinta pun timbul karena sebutan. Siapa pun yang melakukan salah satu di antara keduanya, maka akan menumbuhkan yang lainnya.”

Orang yang suka menyebut-nyebut sesuatu atau banyak membicarakannya, berarti ia menyukai sesuatu tersebut, atau dirinya cenderung mencintai hal tersebut. Lantas apakah tidak boleh ngobrol?

Bukan tidak boleh, tapi harus proporsional. Tepat waktu, tepat guna, dan tepat sasaran. Boleh ngobrol asal mengunakan ilmu dan sesuai penghayatan jiwa. Bertakwalah kepada Allah atas segala perkataan.

Alangkah indah nasihat dari syair ini.

Jikalau kita ingin bahagia

Semaikan takwa di dalam jiwa

Ingatlah Allah di mana saja

Agar jiwamu tetap terjaga

Rugilah kita nantinya

Bila ilmu amal tak sejiwa

Karena Allah tidaklah suka

Pada hamba yang banyak berkata

(Hawari, “Nasihat Takwa”)

Artinya harus tahu diri, kapan waktunya, di mana tempatnya, dan apa yang dibicarakannya. Bila waktunya tepat, tempatnya tepat, dan pembicaraanya bermanfaat serta tidak melanggar syariat, silakan dilakukan.

Boleh. Monggo kata orang Jawa. Mangga kata orang Sunda. Please kata orang Inggris. Tafadhal kata orang Arab.

Tapi bila–yang dibicarakan tersebut–tidak tepat waktu, tidak melihat tempat, dan yang dibicarakannya ngawur, menimbulkan madharat, melalaikan, serta dilarang syariat, maka harus ditinggalkan.

Di sinilah pentingnya memilah dan memilih, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Apa batasannya? Tentu saja syariat. Intinya, boleh ngobrol tapi jangan lupa diri. Begitu, Kawan!

Salam dari saudaramu yang sedang memperbaiki diri..

JAUHAR AL-ZANKI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s